Pernikahan adalah idaman setiap insan. Berbagai upaya ditempuh untuk menghelat acara yang diimpikan sekali seumur hidup ini. Namun sayangnya banyak pernikahan yang kandas di tengah jalan. Selain materi, ilmu adalah yang utama harus dipersiapkan.
Nah berikut rangkuman tausiyah Ust. Salim A Fillah tentang Persiapan Pernikahan
Dalam isyarat Nabi ﷺ tentang Nikah, ialah sunnah teranjur nan memuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian cinta-syahwati. Maka Nikah sebagai ibadah, memerlukan kesiapan & persiapan. Ia tuk yang mampu, bukan sekedar mau. “Ba’ah” adalah parameter kesiapannya.
Maka berbahagialah mereka yang ketika hasrat Nikah hadir bergolak, sibuk mempersiapkan kemampuan, bukan sekedar memperturutkan kemauan. Persiapan Nikah hendaknya segera membersamai datangnya baligh, sebab makna asal “Ba’ah” dalam hadits itu adalah “Kemampuan seksual.”
Imam Ash-Shan'ani dalam Subulus Salam, Syarh Bulughul Maram menambahkan makna “Ba’ah” yakni : kemampuan memberi mahar & nafkah.
Mengkompromikan “Ba’ah” di makna utama (seksual) & makna tambahan (mahar, nafkah), idealnya anak lelaki segera mandiri saat baligh.
Jika kesiapan Nikah diukur dengan “Ba’ah”, maka persiapannya adalah proses perbaikan diri nan tak pernah usai. Ia terus seumur hidup.
Persiapan Nikah perlu start awal. Salim nikah usia 20 th, tapi karena persiapannya dimulai umur 15 taunh, maka tak bisa disebut tergesa. Sebaliknya, ada orang yang Nikah-nya umur 30 th, tapi persiapan penuh kesadaran baru dimulai umur 29,5 th. Itu namanya tergesa-gesa.
Persiapan ‘Ilmiyah-Tsaqafiyah (Pengetahuan)
Nikah, meliput banyak hal semisal Fiqh, Komunikasi Pasangan, Parenting, Manajemen, dll Bukan ustadz-pun, tiap muslim harus sampai pada batas minimal ilmu syar’i nan dibutuhkan dalam berhidup, berinteraksi, berkeluarga. Lalu tentang komunikasi pasangan; seringnya masalah rumahtangga bukan karena ada maksud jahat, melainkan maksud baik nan kurang ilmu Sungguh harus diilmui bahwa lelaki & perempuan diciptakan berbeda dengan segala kekhasannya, untuk saling memahami & bersinergi.
Contoh beda hadapi masalah & tekanan ; Wanita : berbagi, didengarkan, dimengerti. Lelaki : menyendiri, kontemplasi, rumuskan solusi. Bayangkan jika perbedaan itu dibawa dalam sikap dengan asumsi : “Aku mencintaimu seperti aku ingin dicintai” Konflik pasti meraja.
Suami pulang dgn masalah berat disambut isteri yg memaksa ingin tahu & dengar problemnya, padahal ia ingin sendiri & bersolusi.
Lihatlah Khadijah saat Muhammad pulang dr Gua Hira’ dengan panik & resah. Dia tak bertanya, dia sediakan ruang sendiri & kontemplasi.
Sebaliknya Isteri yang sedang ingin didengar lalu curhat ke suami, suami malah tawarkan solusi. Padahal dia hanya ingin dimengerti.
Isteri: Mas aku capek, rumah berantakan bla-bla-bla. Suami: OK, kita cari pembantu. Istri : O, jadi aku dianggap pembantu?!. Suami : Lho?!
Beda lagi : Suami single tasking, bisa marah kalau isterinya nan multitasking memintanya kerjakan beberapa hal berangkai-rangkai.
Beda lagi: Isteri sering berkalimat tak langsung nan tak difahami suami. Istri : Mas, Salma belum dijemput, aku masih harus masak!
Jawab suami: Oh, kalau gitu biar nanti Salma pulang sendiri” Dijamin para istri gondok, sebab maksudnya: "Tolong jemput Salma!"
BEDA. Bagi suami masalah harus disederhanakan (Spiral ke dalam). Bagi isteri, tiap detail & keterkaitan sangat penting (Spiral keluar)
Dan banyak lagi BEDA yang jika tak diilmui potensial jadi masalah serius.
Nah berikut rangkuman tausiyah Ust. Salim A Fillah tentang Persiapan Pernikahan
Dalam isyarat Nabi ﷺ tentang Nikah, ialah sunnah teranjur nan memuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian cinta-syahwati. Maka Nikah sebagai ibadah, memerlukan kesiapan & persiapan. Ia tuk yang mampu, bukan sekedar mau. “Ba’ah” adalah parameter kesiapannya.
Maka berbahagialah mereka yang ketika hasrat Nikah hadir bergolak, sibuk mempersiapkan kemampuan, bukan sekedar memperturutkan kemauan. Persiapan Nikah hendaknya segera membersamai datangnya baligh, sebab makna asal “Ba’ah” dalam hadits itu adalah “Kemampuan seksual.”
Imam Ash-Shan'ani dalam Subulus Salam, Syarh Bulughul Maram menambahkan makna “Ba’ah” yakni : kemampuan memberi mahar & nafkah.
Mengkompromikan “Ba’ah” di makna utama (seksual) & makna tambahan (mahar, nafkah), idealnya anak lelaki segera mandiri saat baligh.
Jika kesiapan Nikah diukur dengan “Ba’ah”, maka persiapannya adalah proses perbaikan diri nan tak pernah usai. Ia terus seumur hidup.
Persiapan Nikah perlu start awal. Salim nikah usia 20 th, tapi karena persiapannya dimulai umur 15 taunh, maka tak bisa disebut tergesa. Sebaliknya, ada orang yang Nikah-nya umur 30 th, tapi persiapan penuh kesadaran baru dimulai umur 29,5 th. Itu namanya tergesa-gesa.
Persiapan ‘Ilmiyah-Tsaqafiyah (Pengetahuan)
Nikah, meliput banyak hal semisal Fiqh, Komunikasi Pasangan, Parenting, Manajemen, dll Bukan ustadz-pun, tiap muslim harus sampai pada batas minimal ilmu syar’i nan dibutuhkan dalam berhidup, berinteraksi, berkeluarga. Lalu tentang komunikasi pasangan; seringnya masalah rumahtangga bukan karena ada maksud jahat, melainkan maksud baik nan kurang ilmu Sungguh harus diilmui bahwa lelaki & perempuan diciptakan berbeda dengan segala kekhasannya, untuk saling memahami & bersinergi.
Contoh beda hadapi masalah & tekanan ; Wanita : berbagi, didengarkan, dimengerti. Lelaki : menyendiri, kontemplasi, rumuskan solusi. Bayangkan jika perbedaan itu dibawa dalam sikap dengan asumsi : “Aku mencintaimu seperti aku ingin dicintai” Konflik pasti meraja.
Suami pulang dgn masalah berat disambut isteri yg memaksa ingin tahu & dengar problemnya, padahal ia ingin sendiri & bersolusi.
Lihatlah Khadijah saat Muhammad pulang dr Gua Hira’ dengan panik & resah. Dia tak bertanya, dia sediakan ruang sendiri & kontemplasi.
Sebaliknya Isteri yang sedang ingin didengar lalu curhat ke suami, suami malah tawarkan solusi. Padahal dia hanya ingin dimengerti.
Isteri: Mas aku capek, rumah berantakan bla-bla-bla. Suami: OK, kita cari pembantu. Istri : O, jadi aku dianggap pembantu?!. Suami : Lho?!
Beda lagi : Suami single tasking, bisa marah kalau isterinya nan multitasking memintanya kerjakan beberapa hal berangkai-rangkai.
Beda lagi: Isteri sering berkalimat tak langsung nan tak difahami suami. Istri : Mas, Salma belum dijemput, aku masih harus masak!
Jawab suami: Oh, kalau gitu biar nanti Salma pulang sendiri” Dijamin para istri gondok, sebab maksudnya: "Tolong jemput Salma!"
BEDA. Bagi suami masalah harus disederhanakan (Spiral ke dalam). Bagi isteri, tiap detail & keterkaitan sangat penting (Spiral keluar)
Dan banyak lagi BEDA yang jika tak diilmui potensial jadi masalah serius.





