Friday, August 28, 2015

Sakinah Adalah...

Dalam pernikahan kita sering mendengar istilah sakinah, "Semoga menjadi keluarga yang sakinah" dan lain sebagainya. Lalu sebenarnya apa makna sakinah? Sudahkah pernikahan kita mendapat gelar sakinah?

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar. Ruum (30):21).



Kata sakinah diambil dari QS. Ar. Ruum (30):21 yakni "Litaskunu ilaiha" yang artinya supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya.

Menurut Imam Ath Thabari kata "Litaskunu ilaiha" memiliki 4 makna, yaitu :

1. "Litasta’iffu biha" 
"Litasta’iffu biha" memiliki makna supaya kalian mampu menjaga kesucian diri kalian dengan kehadiran suami dan istri dalam kehidupan. 
Inilah makna paling mendasar dari sakinah. makna sakinah bukan berarti tidak pernah ada perbedaan pendapat, tidak pernah bertengkar, tidak pernah cekcok, tidak bernah marah. Makna sakinah adalah menghindarkan suami dari perbuatan keji dan nista, menghindarkan suami dari perkara-perkara yang diharamkan oleh agama. Demikian pula hadirnya suami bagi istri, menjaga dari perbuatan-perbuatan yang dosa.

2. "Lita’tafu Ma’aha" 
"Lita’tafu Ma’aha" bermakna supaya kalian mampu membangun ikatan batin yang dalam dengannya. Boleh ada jutaan godaan di luar, tapi satu satunya yang ada di pikiran dan hati yang kemudian tersambung secara dhohir adalah istri/suami kita, pasangan kita. 

Diriwayatkan dari Jabir bahwasanya Rasulullah saw. pernah melihat seorang perempuan lalu beliau mendatangi Zainab istri beliau, kemudian beliau melampiaskan keinginannya. Setelah itu, beliau keluar kepada para sahabat lalu bersabda: "Sesungguhnya wanita itu apabila dilihat dari depan tampak memikat karena ada pengaruh syaitan, dan dari belakang pun tampak memikat karena pengaruh syaitan. Apabila seseorang melihat perempuan lalu terpikat maka segeralah pulang untuk menyebadani istrinya,  karena demikian itu bisa merelai nafsu seksualnya". (H.R. Muslim,  Abu Daud, al-Turmudzi, Ahmad ibn Hambal, Ibnu Hibban, dan al-Baihaqi).

Thursday, July 23, 2015

Ketika Suami Istri Harus Bertengkar

Setiap rumah tangga tak luput dari masalah, baik kecil atau besar hingga menyebabkan pertengkaran. Tak terkecuali keluarga yang anggotanya orang baik sekalipun seperti Ali bin Abi Thalib dan Fatimah radhiyallahu ‘anhuma.

Suatu ketika, Ali pernah berbuat kasar kepada Fatimah. Fatimah kemudian mengancam Ali, "Demi Allah, aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah Saw!" Fatimah pun pergi kepada Nabi Saw. dan Ali mengikutinya.

Sesampainya di hadapan Rasul, Fatimah mengeluhkan tentang kekasaran Ali. Nabi Saw. pun menyabarkannya, "Wahai putriku, dengarkanlah, pasang telinga, dan pahami bahwa tidak ada kepandaian sedikit pun bagi wanita yang tidak membalas kasih sayang suaminya ketika dia tenang."

Ali berkata, "Kalau begitu, aku akan menahan diri dari yang telah kulakukan."
Fatimah pun berkata, "Demi Allah, aku tidak akan berbuat apapun yang tidak kamu sukai."

Disebutkan juga dalam riwayat lain bahwa pernah terjadi pertengkaran antara Ali dan Fatimah. Lalu Rasulullah Saw. datang dan Ali menyediakan tempat untuk Rasulullah Saw. berbaring. Kemudian Fatimah datang dan berbaring di samping Nabi Saw. Ali pun berbaring di sisi lainnya. Rasulullah Saw. mengambil tangan Ali dan meletakkannya di atas perut beliau, lalu beliau mengambil tangan Fatimah dan meletakkannya di atas perut beliau. Selanjutnya beliau mendamaikan keduanya sehingga rukun kembali, Setelah itu barulah beliau keluar. Ada orang yang melihat kejadian itu lalu berkata kepada Rasulullah Saw., "Tadi engkau masuk dalam keadaan demikian (murung), lalu engkau keluar dalam keadaan berbahagia di wajahmu." Ia menjawab, "Apa yang menahanku dari kebahagiaan, jika aku dapat mendamaikan kedua orang yang paling aku cintai?"

Tuesday, June 16, 2015

Mitsaqan Ghaliza

Agama menyariatkan dijalinnya pertemua pria dan wanita dan diarahkannya pertemuan itu sedemikian rupa sehingga terlaksana apa yang dinamai perkawinan, guna mengusir hantu keterasingan dan guna beralihnya kerisauan menjadi ketentraman.


Pernikahan atau nikah artinya adalah terkumpul dan menyatu. Menurut istilah lain juga dapat berarti Ijab Qobul (akad nikah) yang mengharuskan perhubungan antara sepasang manusia yang diucapkan oleh kata-kata yang ditujukan untuk melanjutkan ke pernikahan, sesusai peraturan yang diwajibkan oleh Islam.

Pernikahan bukanlah cinta semata-mata. Ia adalah satu perjanjian antara kita dan Allah. Allah menyebut pernikahan sebagai Mitsaqan Ghaliza yaitu yaitu perjanjian yang kokoh.
Mitsaqan Ghaliza adalah komitment yang paling sulit di muka bumi, komitmen yang terberat dalam hidup kita. Pernikahan merupakan suatu perjuangan, pengorbanan, tetes keringat yang dicurahkan untuk mencapai surga. 

Dalam Al Qur'an kata mitsaqan ghaliza hanya dipakai 3 kali saja:
1. Allah SWT membuat perjanjian dengan para Nabi Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa (Al Ahzab 33:7)
2. Allah SWT mengangkat bukit Thur di atas kepala bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia pada Allah (An Nissa 4:154)
3. Allah SWT menyatakan hubungan pernikahan (An Nissa 4:21)

Perjanjian antara suami-istri sedemikian kukuh, sehingga bila mereka dipisahkan di dunia oleh kematian, maka mereka masih akan digabungkan oleh Allah di akhirat setelah kebangkitan. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Yasin 36:56 ;
“…mereka bersama pasangan-pasangan mereka bernaung di tempat yang teduh.”

Karena itu, sudah semestinya sebuah pernikahan kita jadikan sebuah hal yang sakral yang kita jaga sampai akhir hayat, menjadikannya sarana ibadah dalam keluarga yang Sakinah, Mawadah, Warahmah untuk menggapai Ridho Allah SWT.

Wednesday, May 20, 2015

Mencintai ala Rasulullah

Setiap pasangan memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan rasa cinta. Islam mengajarkan merawat cinta seperti yang ditauladankan oleh rumah tangga Rasulullah SAW. Berikut adalah Ekspresi Cinta ala Rasul.

Memberikan dedikasi sepenuhnya

Mari belajar kepada Khadijah binti Khuwalid, kekasih Rasulullah SAW.
Suatu ketika, setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, Rasulullah SAW yang tengah ketakutan melangkah bergegas dengan jantung berdebar dan wajah pucat. Saat itu hanya satu tujuannya, pulang dan menjumpai istrinya. Rasulullah kembali ke rumah dengan perasaan takut seraya berkata kepada Khadijah, ”Selimuti aku! Selimuti aku!” Tanpa banyak bicara, Khadijah menyelimuti tubuhnya yang menggigil. Sesaat kemudian, ketakutannya mereda dan cerita tentang perjumpaannya dengan Malaikat Jibril pun mengalir. Rasulullah SAW menatap Khadijah seakan ingin mendapatkan kekuatan. “Aku khawatir pada diriku,” kata Rasulullah.
Khadijah menjawab, “Tidak perlu khawatir, Allah tidak akan pernah menghinakanmu, sesungguhnya engkau orang yang menjaga tali silaturrahmi, senantiasa mengemban amanah, berusaha memperoleh sesuatu yang tiada, selalu menghormati tamu dan membantu orang-orang yang berhak untuk dibantu.” 

Saat menerima risalah kenabian, Khadijah merupakan orang pertama yang percaya kepada Allah dan Rasulullah SAW beserta ajaran-ajaran-Nya. Rasulullah SAW pun tidak menghiraukan berbagai ancaman dan propaganda yang datangnya dari kaum musyrikin. Karena disampingnya terdapat sang kekasih pilihan Allah yang dengan setia mendampingi dan memperkuat aktifitas dakwahnya, sehingga terasa ringan beban yang diemban dan ringan pula menghadapi cobaan apa pun yang dilakukan oleh kaumnya. 

Saturday, April 11, 2015

Doa Jodoh

Jodoh adalah takdir yang sekaligus berkaitan dengan peran Allah dan ikhtiar manusia. Allah menghendaki kita agar berusaha mencari dan menemukan jodoh terbaik kita masing-masing. Kaidah dalam menemukan jodoh adalah usaha atau ikhtiar secara syar’i dan tawakal serta doa mengiringi usaha kita dalam menemukan jodoh dan menentukan seperti apakah jodoh yang kita dapatkan.

Berdoa memiliki banyak keutamaan, yang akan bermanfaat bagi muslim yang melaksanakannya dengan hati yang tulus dan ikhlas disertai kekhusyuan atau keseriusan dalam doanya.


“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (Surat Al Baqarah ayat 186).

- Doa Jodoh - 

Seandainya telah engkau catatkan
Dia milikku tercipta buatku
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagian antara kami
Agar kemesraan itu abadi
Dan Ya Allah Ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ketepian yang sejahtera dan abadi

Wednesday, March 11, 2015

10 Inspirasi Busana Pengantin Muslimah Syar'i

Tampil cantik bak ratu semalam saat acara resepsi pernikahan adalah idaman setiap muslimah. Namun impian ini terkadang terhalang oleh susahnya mencari busana pengantin muslimah yang syar'i. 

Diantara syarat busana yang syar'i adalah menutup aurat, kerudung yang dipakai dalam pernikahan tetep harus sesuai tuntunan yaitu menutup dada dan menghindari model punuk onta, menggunakan bahan penyerap keringat dan sederhana, warna yang sesuai dan model pakaian tidak menjuntai ke belakang. 

Berikut adalah 10 Inspirasi Busana Pengantin Muslimah Syar'i yang diperoleh dari beberapa sumber :


Thursday, February 5, 2015

Jodoh Milik Semua Orang

Allah SWT telah menjamin jodoh bagi hambanya, tanpa terkecuali. Jikapun tidak bertemu di dunia Allah menjamin akan dipertemukan di surga.  Jodoh tidak mengenal beda umur, tak mengenal paras wajah, pun tidak mengenal pangkat dan kedudukan. Jodoh adalah ketentuan Allah. Jodoh adalah kerja Allah. Jodoh adalah anugerah dari Allah. Allah, Yang Maha Berkuasa dan Maha Menentukan atas sesuatu yang dikehendaki-Nya. Maka yang kita butuhkan adalah berdoa supaya jodoh kita adalah yang terbaik untuk kita dan berusaha untuk jodoh kita. Serta tetap taat pada setiap perintah-Nya. ya, indahnya penantian yang dibersamai dengan ketaatan seperti kisah berikut ini.


Cinta Bersujud di Mihrab Taat

oleh Salim A. Fillah

Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Sebutan ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri jasmani serta kedudukannya di antara manusia; kerdil dan rendahan.

Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan dia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia. Celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat kemasyarakatan yang tak terampunkan.

Julaibib yang tersisih. Tampilan jasmani dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya yang jelek terkesan sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak. Abu Barzah, seorang pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, ”Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”

Thursday, January 1, 2015

Jodoh, Tertulis di Lauhul Mahfuzh

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Surat Ar-Rum Ayat 21)

Jodoh adalah salah satu misteri Illahi yang telah Allah tetapkan jauh sebelum kita dilahirkan. 

Diriwayatkan dari bapak Abdir Rahman, yaitu Abdullah bin Mas’ud ra. berkata : Telah menceriterakan kepada kami Rasulullah saw (orang yang selalu benar dan dibenar kan) : ”Sesungguhnya salah seorang dari kamu sekalian dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama empat pulah hari berupa air mani. Kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu empat puluh hari. Lalu diutus seorang malaikat kepada janin tersebut dan ditiupkan ruh kepadanya dan malaikat tersebut diperintahkan untuk menuliskan empat perkara, yaitu: menulis rizkinya, batas umur-nya, pekerjaannya dan kecelakaan atau kebahagiaan hidupnya”.