Setiap pasangan memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan rasa cinta. Islam mengajarkan merawat cinta seperti yang ditauladankan oleh rumah tangga Rasulullah SAW. Berikut adalah Ekspresi Cinta ala Rasul.
Memberikan dedikasi sepenuhnya
Mari belajar kepada Khadijah binti Khuwalid, kekasih Rasulullah SAW.
Suatu ketika, setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira, Rasulullah SAW yang tengah ketakutan melangkah bergegas dengan jantung berdebar dan wajah pucat. Saat itu hanya satu tujuannya, pulang dan menjumpai istrinya. Rasulullah kembali ke rumah dengan perasaan takut seraya berkata kepada Khadijah, ”Selimuti aku! Selimuti aku!” Tanpa banyak bicara, Khadijah menyelimuti tubuhnya yang menggigil. Sesaat kemudian, ketakutannya mereda dan cerita tentang perjumpaannya dengan Malaikat Jibril pun mengalir. Rasulullah SAW menatap Khadijah seakan ingin mendapatkan kekuatan. “Aku khawatir pada diriku,” kata Rasulullah.
Khadijah menjawab, “Tidak perlu khawatir, Allah tidak akan pernah menghinakanmu, sesungguhnya engkau orang yang menjaga tali silaturrahmi, senantiasa mengemban amanah, berusaha memperoleh sesuatu yang tiada, selalu menghormati tamu dan membantu orang-orang yang berhak untuk dibantu.”
Saat menerima risalah kenabian, Khadijah merupakan orang pertama yang percaya kepada Allah dan Rasulullah SAW beserta ajaran-ajaran-Nya. Rasulullah SAW pun tidak menghiraukan berbagai ancaman dan propaganda yang datangnya dari kaum musyrikin. Karena disampingnya terdapat sang kekasih pilihan Allah yang dengan setia mendampingi dan memperkuat aktifitas dakwahnya, sehingga terasa ringan beban yang diemban dan ringan pula menghadapi cobaan apa pun yang dilakukan oleh kaumnya.
Cinta, kadang berarti cemburu
Disebutkan dalam riwayat bahwa Aisyahlah yang paling besar rasa cemburunya terhadap Rasulullah SAW jika dibanding dengan istri-istri beliau yang lain. Jangan kan terhadap yang masih hidup, yang sudah wafat pun Aisyah masih saja mempunyai rasa cemburu. Misalnya, terhadap Khadijah r.a. istri Rasulullah yang sudah wafat. Ia sering mengungkapkan kecemburuannya secara langsung di hadapan Rasulullah. karena manyadari Aisyah cepat sekali naik darah bila sedang terserang demam cemburu, Rasulullah pun jadi suka menggodanya.
Khusus mengenai kecemburuan Aisyah kepada Khadijah, banyak sekali riwayat yang menyebutkannya. Diantaranya adalah ucapan Aisyah sendiri yang diriwayatkan dalam hadits Shahih oleh Muslim berikut.
"Mengenai Rasulullah, tidak ada perempuan lain yang aku cemburui seperti kecemburuanku terhadap Khadijah. karena aku sering sekali mendengar beliau menyebutnya. Lagi pula beliau lagi menikah denganku setelah Khadijah wafat".
Namun demikian Rasulullah amat menyayangi Aisyah lebih dari istri-istri yang lain. Beliau memaklumi rasa cemburu yg ada pada diri perempuan merupakan kelemahan perempuan yang ingin memonopoli cinta suami. Dan itu terdapat pada diri Aisyah.
Sabar dan memaklumi
Aisyah RA mengerti betul kepribadian suaminya, Rasulullah SAW. Hidup dalam suasana keluarga memberinya kenangan indah yang kaya dari sikap keseharian utusan Allah itu.
Suatu hari Aisyah dicengkram rasa khawatir. Hingga menjelang shubuh ia tidak menjumpai suaminya tersebut tidur di sebelahnya. Dengan gelisah Aisyah pun mencoba berjalan keluar. Ketika pintu dibuka, Aisyah terbelalak kaget. Rasulullah SAWSAW sedang tidur di depan pintu.
"Mengapa Nabi tidur di sini?"
"Aku pulang larut malam. Karena khawatir mengganggu tidurmu, aku tak tega mengetuk pintu. Itulah sebabnya aku tidur di depan pintu," jawab Nabi.
Pada kesempatan lain, terdengarlah kabar oleh Abu Bakar ash-Shidiq Ra bahwa anaknya ‘Aisyah melontarkan suara yang cukup keras kepada suaminya, Rasulullah SAW. Beliau yang terkenal dan terbukti kelembutan perangainya pun langsung mendatangi rumah menantunya yang letaknya tak jauh dari kediamannya itu.
Seketika setelah masuk, beliau langsung menghampiri ‘Aisyah sambil berkata tegas, “Wahai putri Ummu Ruman, apakah engkau mengangkat suaramu dari Rasulullah SAW?” Disebutkan dalam riwayat ini, Abu Bakar Ra telah memegang tangan anaknya itu.
Melihat gelagat perbuatan sang mertua, Rasulullah saw langsung mengambil posisi berdiri di antara keduanya. Beliau menghalangi, barangkali Abu Bakar akan memukul anaknya itu.
Berselang jenak, Abu Bakar pun keluar dari rumah Nabi untuk menenangkan diri. Dalam kesempatan ini, Rasulullah Saw mengambil langkah mendekati istrinya itu, sembari berkata, “Tidakkah engkau melihat bahwa aku telah menghalangi laki-laki itu (Ayahmu, Abu Bakar Ra) darimu?”
Melihat pembelaan dan kelembutan sang Nabi, ‘Aisyah pun merasa amat dihormati nan dihargai. Ia menyadari kesalahannnya kemudian memperbaikinya. Yang dilakukan oleh Rasulullah saw adalah teladan kebaikan tiada tara. Beliau memilih menasihati istrinya saat ayahnya keluar. Padahal, ada peluang bagi beliau untuk ‘memarahi’ sang istri di depan ayahnya itu.
Mesra dan penuh kasih sayang
Rasulullah SAW mencontohkan perlakuan mesra terhadap istri dengan mandi bersama. Kegiatan yang sudah sangat jarang ditiru pasangan suami istri zaman sekarang. Padahal dengan mencontoh hal ini, rasa cinta dan sayang terhadap pasangan akan semakin terpupuk. Bahtera rumah tangga pun akan berlayar dengan lancar dan penuh bunga-bunga kebahagiaan didalamnya.
Aisyah R.A menceritakan : Aku pernah mandi bersama Rasulullah SAW dalam satu bejana. Tangan kami sama-sama berebut (menggunakan air dalam bejana tersebut) (HR Bukhori)
Ada juga hadist yang mengisahkan bahwa beliau berdua mandi bersama setelah junub.
Aku (Aisyah) pernah mandi bersama Rasulullah SAW dalam satu bejana, dan ketika itu kami sedang junub
Kisah lain Rasulullah SAW kemesraan ini saat beliau menyuapi Aisyah RA. Dari Aisyah RA, ia berkata : Saya dahulu biasa makan his (sejenis bubur) bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam “ (HR. Bukhori dalam Adabul Mufrod)
Dari Aisyah Ra, ia berkata : Aku biasa minum dari gelas yang sama ketika haidh, lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengambil gelas tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat aku meletakkan mulut, lalu beliau minum (HR Abdurrozaq dan Said bin Manshur, dan riwayat lain yang senada dari Muslim.)
Kemesraan Rasulullah yang lain adalah memanggil Dengan Panggilan Mesra. Panggilan mesra ini telah dicontohkan Rasul dengan mengatakan Humaira kepada Aisyah yang berarti pipinya kemerah-merahan.
Rasul bersabda : Wahai pipinya kemerah-merahan, apakah engkau melihat mereka (parade militer) di Masjid (HR Bukhari)
dari berbagai sumber

No comments:
Post a Comment